peradaban Turki Usmani
Latar
belakang berdirinya Kerajaan Turki Usmani
Kerajaan
Turki Usmani muncul di pentas sejarah Islam pada periode pertengahan. Masa
kemajuan Dinasti ini dihitung dari mulai digerakkannya ekspansi ke wilayah baru
yang belum ditundukkan oleh pendahulu mereka. keberhasilan mereka dalam
memperluas wilayah kekuasaan serta terjadinya peristiwa-peristiwa penting
merupakan suatu indikasi yang dapat dijadikan ukuran untuk menentukan kemajuan
tersebut.
Pendiri
kerajaan Turki adalah bangsa Turki dari kabilah Qayigh Oghus, anak
suku Turki yang mendiami sebelah barat gurun Gobi, atau daerah Mongol dan daerah
utara negeri Cina, yang dipimpin oleh Sulaiman. Dia mengajak anggota sukunya
untuk menghindari serbuan bangsa mongol yang menyerang dunia Islam yang berada
di bawah kekuasaan Dinasti Khawarizm pada tahun 1219-1220 M.
Sulaiman
dan anggota sukunya lari ke arah Barat dan meminta perlindungan kepada
Jalaluddin, pemimpin terakhir Dinasti Khawarizm di Transoxiana. Jalaluddin
menyuruh Sulaiman agar pergi ke arah Barat (Asia Kecil). Kemudian mereka
menetap di sana dan pindah ke Syam dalam rangka menghindari serangan mongol.
Dalam usahanya pindah ke Syam itu, pemimpin orang-orang Turki mendapat
kecelakaan. Mereka hanyut di sungai Efrat yang tiba-tiba pasang karena banjir
besar pada tahun 1228 M.
Akhirnya
mereka terbagi menjadi 2 kelompok, yang pertama ingin pulang ke negeri asalnya
dan yang kedua meneruskan perjalanannya ke Asia kecil. Kelompok kedua ini
berjumlah 400 kepala keluarga yang dipimpin oleh Ertugril (Erthogrol) ibn
Sulaiman. Mereka mengabdkan dirinya dirinya kepada Sultan Alauddin II dari
Dinasti Saljuk Rum yang pusat pemerintahannya di Kuniya, Anatolia Asia Kecil.
Pada
saat itu, Sultan Alauddin II sedang menghadapi bahaya peperangan dari bangsa
Romawi yang mempunyai kekuasaan di Romawi Timur (Byzantium). Dengan bantuan
dari bangsa Turki pimpinan Erthogrol, Sultan Alauddin II dapat mencapai
kemenangan. Atas jasa baik tersebut Sultan menghadiahkan sebidang tanah yang
perbatasan dengan Bizantium.
Pada
tahun 1288 M, Erthogrol meninggal dunia dan meninggalkan putranya yang bernama
Usman, yang diperkirakan lahir pada 1258 M. usman inilah yang ditunjuk oleh
Erthogrol untuk meneruskan kepemimpinannya dan disetujui serta didukung oleh
Sultan Saljuk pada saat itu. Nama Usman inilah yang nanti diambil sebagai nama
untuk Kerajaan Turki Usmani. Usman ini pula yang dianggap sebagai pendiri
Dinasti Usmani. Sebagaimana ayahnya, Usman banyak berjasa kepada Sultan
Alauddin II. Kemenangan-kemenangan dalam setiap pertempuran dan peperangan
diraih oleh Usman.
Masa
Kejayaan Kerajaan Turki Usmani
Dengan
jatuhnya jazirah Arab, maka imperium Turki Usmani mempunyai wilayah yang luas
sekali, terbentang dari Budapest di pinggir sungai Thauna, sampai ke Aswan dekat
hulu sungai Nil, dan dari sungai efrat serta pedalaman Iran, sampai Bab
el-Mandeb di selatan jazirah Arab. Selama masa kesultanan Turki Usmani
(1299-1942 M), sekitar 625 tahun berkuasa tidak kurang dari 38 Sultan.
Dalam
hal ini, Syafiq A. Mughni membagi sejarah kekuasaan Turki Usmani menjadi lima
periode yaitu:
1. Periode pertama
(1299-1402 M), yang dimulai dari berdirinya kerajaan, ekspansi pertama sampai
kehancuran sementara oleh serangan timur yaitu dari pemerintahan Usman I sampai
pemerintahan Bayazid.
2.
Periode kedua (1402-1566 M), ditandai dengan restorasi kerajaan dan cepatnya
pertumbuhan sampai ekspansinya yang terbesar. Dari masa Muhammad I sampai
Sulaiman I.
3.
Periode ketiga (1566-1699 M), periode ini ditandai dengan kemampuan Usmani
untuk mempertahankan wilayahnya. Sampai lepasnya Honggaria. Namun kemunduran
segera terjadi dari masa pemerintahan Salim II sampai Mustafa II.
4.
Periode keempat (1699-1838 M), periode ini ditandai degan berangsur-angsur
surutnya kekuatan kerajaan dan pecahnya wilayah yang di tangan para penguasa
wilayah, dari masa pemerintahan Ahmad III sampai Mahmud II.
5.
Periode kelima (1839-1922 M) periode ini ditandai dengan kebangkitan cultural
dan administrates dari negara di bawah pengaruh ide-ide barat, dari masa
pemerintahan Sultan A. Majid I sampai A Majid II.
Peradaban
Yang Berkembang
Perluasan Wilayah
Setelah
Usman mengumumkan dirinya sebagai Padisyah al-Usman (raja besar
keluarga Usman), pada tahun 1300 M. dia memulai memperluas wilayahnya. Hal ini
berlangsung paling tidak sampai dengan masa Pemerintahan Sulaiman I. untuk
mendukung hal itu, Orkhan membentuk pasukan tangguh yang dikenal dengan
Inkisyariyyah. Pasukan Inkisyariyah adalah tentara utama Dinasti
Usmani yang terdiri dari bangsa Georgia dan Armenia yang baru masuk Islam. Ternyata,
dengan pasukan tersebut seolah-olah Dinasti Usmani memiliki mesin perang yang
paling kuat dan memberikan dorongan yang besar sekali bagi penaklukan
negeri-negeri non Muslim.
Ada lima faktor yang menyebabkan kesuksesan Dinasti
Usmani dalam perluasan wilayah Islam. Yaitu:
1) Kemampuan orang-orang
Turki dalam strategi perang terkombinasi dengan cita-cita
memperoleh ghanimah (harta rampasan perang).
2) Sifat dan karakter
orang Turki yang selalu ingin maju dan tidak pernah diam serta gaya hidupnya
yang sederhana, sehingga memudahkan untuk tujuan penyerangan.
3) Semangat jihad dan
ingin mengembangkan Islam.
4) Letak Istambul yang
sangat strategis sebagai ibukota kerajaan juga sangat menunjang kesuksesan
perluasan wilayah ke Eropa dan Asia. Istambul terletak antara dua benua dan dua
selat (selat Bosphaoras dan selat Dardanala), dan pernah menjadi pusat
kebudayaan dunia, baik kebudayaan Macedonia, kebudayaan Yunani maupun
kebudayaan Romawi Timur.
5) Kondisi
kerajaan-kerajaan di sekitarnya yang kacau memudahkan Dinasti Usmani
mengalahkannya.
Kemajuan Pada Masa Dinasti Usmani
1) Sosial Politik dan Administrasi negara
2) Bidang Militer
3) Bidang Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan
4) Bidang Ekonomi dan Keuangan Negara
Kemunduran
Turki Usmani
Pada akhir kekuasaan
Sulaiman al-Qanuni I kerajaan Turki Usmani berada ditengah-tengah dua kekuatan
monarki Austria di Eropa dan kerajaan Syafawi di Asia. Melemahnya kerajaan
Usmani setelah wafatnya Sulaiman I dan digantikan oleh Salim II. Pada awal abad
ke-19 para Sultan tidak mampu mengontol daerah-daerah kekuasaannya. Dan
melemahnya militer Turki Usmani berakibat munculnya pemberontakan. Beberapa
daerah berangsur-angsur mulai memaisahkan diri dan mendirikan pemerintah
otonom.
Di Mesir, kelemahan
kerajaan Turki Usmani membuat Mamalik bangkit kembali. Di bawah kepemimpinan
Ali Bey, pada tahun 1770 M., Mamalik kembali berkuasa di Mesir, sampai
datangnya Napoleon Bonaparte dari Prancis tahun 1798 M. Demikian pula
pemberontakan terjadi di Libanon dan Syiria, sehingga kerajaan Turki Usmani
mengalami kemunduruan, bukan saja daerah yang tidak beragama Islam, tetapi juga
di daerah yang berpenduduk muslim.
Banyak faktor yang menyebabkan kerajaan Usmani ini
mengalami kemunduran, di antaranya adalah:
a. Wilayah kekuasaan yang
sangat luas yang tidak dibarengi dengan Administrasi dan potensi yang kuat.
b. Kelemahan para
penguasa, baik dalam kepribadian maupun dalam kepemimpinan yang berakibat
pemerintahan menjadi kacau.
c. Pemberontakan tentara
Jenissari.
d. Heterogenitas
penduduk. Wilayah yang luas yang didiami penduduk yang beragam, baik dari segi
agama, suku, ras, etnis dan adat istiadat acap kali melatar belakangi
terjadinya pemberontakan.
e. Merosotnya ekonomi.
Akibat perang yang berkepanjangan sehingga perekonomian negara merosot.
Komentar
Posting Komentar