Makna Islam sebagai agama dan tuntunannya dalam kehidupan
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Islam sebgai agama samawi mengandung
berbagai pesan-pesan Ilhiyah kepada manusia sebagai makhluk yang di beri
keleluasaan begerak, berfikir, berbuat, melihat, dan mendengar. Keluasan hak
yang di berikan kepada manusia dari Allah itu tentu memiliki konsekuensi
logisbagi kehidupan manusia dalam mengemban amanat kehidupan yang di berikan
Allah kepadanya. Pemberian kelebihan dari pencipta kepada manusia itu harus di
maknai sebagai amanat yang tentunya akan di mintai pertanggung jawaban kelak.
Mengapa demikian?, karena seluruh ciptaan Allah yang ada di bumi dan di langit
adalah sebagai kenikmatan bagi manusia dan tidak di berikan kepada makhluk
lainnya. Maka menjadi hala wajar dan semestinya bagi manusia untuk memanfaatkan
dari apa saja yang telah di anugrahkan itu.
B. RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa
makna Islam sebagai Agama dan tuntunannya dalam kehidupan?
2.
Apa
makna Islam sebagai Agama dan peradaban?
3.
Bagaimnakah
perkembangan peradaban islam di Eropa, Afrika, Asia dan bukti-buktinya?
4.
Bagaimna
respon masyarakat terhadap pradaban Islam?
5.
Siapa
saja tokoh muslim yang mengembangkan pradaban ilmu-ilmu dalam islam?
C. TUJUAN
PENULISAN
1.
Mengetahui
makna islam sebagai agama dan tuntunannya dalam kehidupan
2.
Mengetahui
makna islam sebagai agama dan peradabannya
3.
Mengetahui
sejarah sejarah perkembangan islam di Eropa, Afrika, dan Asia serta bukti-bukti
sejarahnya
4.
Mengetahui
respon dan tanggapan masyarakat terhadap peradaban islam
5.
Mengetahui
tokoh-tokoh yang berjasa dalam mengembangkan ajaran Islam
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Makna islam sebagai agama dan tuntunannya dalam kehidupan
Islam dari segi bahasa berasal dari
bahasa Arab, yaitu salima yang mengandung arti selamat,sentosa ,
dan damai. Dari kata salima berubah bentuk menjadi aslama,
yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian. Oleh sebab itu orang yang berserah diri kepada
Allah SWT disebut orang muslim.
Dari segi
istilah banyak ahli yang mendefinisikan diantranya :
·
Harun
Nasution mengatakan bahwa Islam menurut istilah adalah agama yang
ajaran-ajarannya di wahyukan Tuhan kepada masyarakat melalui Nabi Muhammad SAW
sebagi rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya
mengenal satu segi, tetapi mengenal berbagai segi dari kehidupan manusia.
·
Maulana
Muahammad Ali mengatakan bahwa Islam adalah agama perdamaian dengan dua
ajarannya, yaitu: ke esaan Allah dan persaudaraan ummat manusia menjadi bukti
nyata bahwa Islam selaras denga namanya.
Ajaran Islam tidak di tujukan kepada
suatu kelompok atau bangsa tertentu, melainkan sebagai rahmatan lil alamin,
sesuai denga misi yang di emban Rasulullah SAW. Ran islam di turunkan Alllah
SWT untuk di jadikan pedomam hidup seluruh manusia dalam mencapai kehidupan di
dunia dan di akhirat. Dengan demikian, hukum Islam bersifat universal untuk
seluruh ummat manusia serta dapat di berlakukan di setiap bangsa dan negara.
Seluruh ajaran Islam, baik Akidah, syariah, maupun akhlak bertujuan
membebaskan manusia dari belenggu penyakit mental spiritual dan stagnasi
berfikir serta mengatur tingkah laku perbuatan manusia secara tertib agar tidak
terjerumus kepada lembah kehinaaan serta ke terbelakangan, sehingga tercapai
kesejahteraan dan kebahagiaaan hidup. Sinkronitas dan integritas dari ke tiga
aspek tersebut terlihat dalam universalisme dan universalitas islam dengan
misinya sebagai rahmat seluruh ummat manusia. Atas dasar itulah muncul
diktum(pernyataan) Islam sebagai agama yang sempurna. Kesempurnaannya terlihat
dalam ajaran-ajarannya yang bersifat fleksibel (luas dan luwes) serta
mengharuskan terciptanya keseimbangan hidup antara duniawi dan ukhrawi, jasmani
dan rohani. Oleh karena itu islam
merupakan kekuatan hidup yang dinamis, juga merupakan suatu kode yang sesuai
dan berdampingan dengan tabiat alam, dan merupakan kode yang meliputi segala
aspek kehidupan.
Kedatangan Islam sebagai agama memberikan dimensi baru terhadap
agama-agama lainnya juga dalam kehidupan. Pertama, agama tidak lagi
harus di terima sebgai dogma(kepercayaan yang harus di terima), yang harus di
terima apabila orang ingin selamat dari siksa yang selama-lamanya. Akan tetapi
Islam di terima sebagai agama yang menjadi pilihan Tuhan dangan perantara
wahyu. Selanjutnya wahyu di akui sebagai faktor yang sangat di perlukan bagi
evolusi manusia. Jika dalam bentuknya yang kasar, wahyu merupakan pengalaman unversal dari
kemanusiaan, dalam tingkatan yang paling tinggi, wahyu merupakan pemberian
tuhan kepada manusia dengan perantara Nabi. Kedua , ajaran Islam tidak
hanya terbatas pada kehidupan setelah mati. Perhatian utamanya adalah kehidupan
dunia dan dengan perantara perbuatan baik di dunia ini manusia dapat memproleh
kesadaran dan eksitensinya yang lebih tinggi. Itulah sebabnya Al Qur’an pada
banyak tempat membahas masalah-masalah yang menyangkut berbagai aspek dan
kehidupan manusia. Ia tidak hanya membahas cara beribadah, bentuk-bentuk
peribadatan dengan cara-cara yang menjadikannya dekat dengan tuhan, tetapi dia juga membahas dan merinci tentang
problem-problem dunia sekitar manusia. Masalah hubungan manusia dengan manusia,
kehidupan sosial dan politik, serta masalah-masalah lainnya yang menyangkut
berbagai aspek kehidupan.[1]
B.
Makna islam sebagai peradaban dan tuntunannya dalam kehidupan
Apakah manusia pada
abad teknologi dan informasi ini masih memerlukan agama? Inilah pertanyaan yang
sering di lontarka oleh sebagian orang yang kadang mengganggu para ahli agama.
Dengan melihat sepintas sejarah peradaban ummat manusia, kita dapat mengetahui
bahwa agama merupakan kekuatan yang pokok dalam perkembangan umat manusia
sekarang ini. Apa yang di katakan baik dan mulia pada manusia di proleh melalui
inspirasi daari iman kepada Tuhan, suatu kebenaran yang barangkali saja orang
atheis pun akan sulit menentang nya. Orang seperti Ibrahim , Musa, Isa, krisna,
Budha, dan Muhammad SAW, pada gilirannya masing-masing dan dalm tingkatannya
sendiri-sendir telah mengubah sejarah umat manusia dan mengangkat mereka dari
kerendahan kepada ketinggian moral yang tidak pernah mereka bayangkan. Perkembangan
moral dan etika manusia hingga dewasa ini kalau di cari penyebabnya adalah
agama.
Mari kita merenungkan apakah perasaan yang baik memberikan
inspirasi kepada manusia dewasa ini akan tetap hidup? Andaikan satu atau dua
generasi dunia ini berlangsung tanpa percaya kepada tuhan? Perasaan dan bentuk
materialisme macam apa yang akan menggantinya?.
Hampir dapat di pastikan bahwa materialisme akan melahirkan
semangat mementingkan diri sendiri, karena pembagian kekayaan yang merupakan
ajaran agama tidak akan memberikan inspirasi dan getaran pada umat manusia yang
hidup di dunia tanpa tuhan. Apabila sanksi agama tidak ada, umat manusia akan
berangsur-angsur tenggelam dalam kebuasan dan kebiadaban. [2]
Melihat konteks kehidupan masyarakat modren, sejak mereka mampu
mengembangkan potensi-potensi rasionalnya, mereka membebaskan diri dari
belenggu pemikiran mistis yang irasional. Akan tetapi mereka tidak mampu
melepaskan diri dari belenggu lain, yaitu penyembuhan kepada diri sendiri. Hal
ini merupakan akibat dari humanisme dalam panggung sejarah yang di tandai
dengan adanya renaissance, yaitu kerinduan akan niali-nilai budaya
leluhur dari Yunani dan Romawi. Sejak saat itulah lahir suatu keyakinan bahwa
manusia wajib mengusahakan kehidupan yang layak bagi dirinya, menyangkut
seluruh aspek dari manusia. Namun kenyataannya kesejarahan di persempit dan di
batasi pada bidang materi. Maka cukup beralasan jika pandangan tersebut sebagai
awal kejatuhan manusia, dari makhluk spiritual menjadi makhluk material.
Suatu kenyataan yang patut
di catat di sini, adalah bahwa berhubungan dengan sistem nilai serta
tutjuan-tujuan hidup, masyarakat modren berada pada suatu masa transisi.
Cara-cara hidup yang lengkap dengan nilai dan
norma yang ideal, telah berganti dengan pola hidup baru yang sekuler.
Kenyataan tersebut menuntut kita untuk dapat meluruskan nilai-nilai yang
benar-benar membina moralitas luhur, dengan mempersonifikasikan esensi
metafisik, pesan moral dan ideologi dalam ajaran agama. Menyangkut masalah
keyakinan yang benar tentang Tuhan, tugas manusia dalam hidup, dan kesadaran
akan adanya kekuasaan yang Maha Mutlak, yang kepadanya manusiaharus
mempertanggung jawabkan segala tingkah lakunya. Sebab dalam ajaran agama
terdapat hukum yang menunjukkan jalan yang paling baik bagi manusia dan
mengakomodasi sarana pemenuhan kebutuhan sebaik mungkin agar manusia tidak
tersesat dalam hidupnya.
Esensi
manusia hanya memiliki makna apabila seluruh kegiatannya di dedikasikan kepada
Allah. Namun sering kali kita di hadapkan pada kenyataan adanya kecendrungan
dari sistem berfikir manusia modren, yang tidak saja berpling dari agama dalam
lapangan moral dan sains belaka, tetapi lebih dari itu, menganggap bahwa pola
berfikir modren tidak harus memiliki kesan punya kaitan dengan Allah dan
kehidupan akhirat. Jelaslah bahwa pola fikir kehidupan modren seperti itu
cendrung untuk membuat garis pemisah dengan nilai-nilai spiritual. Sebagai
alternatifnya, agama memberikan kita ukura-ukuran dan bimbingan untuk tegaknya
moralitas dan jiwa toleransi kemanusiaan serta mengembalikan manusia kepada fitrahnya
sebagai makhluk moralis. [3]
C. Unsur – Unsur Ajaran Islam sebagai Pendorong Peradaban
1. Penghargaan terhadap akal
pikiran
Islam menempatkan akal fikiran dalam
posisi yang tinggi, sebagai mana firman-Nya dalam
Surat Ali Imran
190 dan 191 :
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang mengingat ALLAH sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka memikiran tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata)”yatuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia.
Maha suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imran ayat 190-191)
2. Anjuran
untuk menuntut ilmu
Anjuran atau
dorongan islam agar umat islam agar umat islam menguasai ilmu pengetahuan ini
antara lain dijelaskan dalam surat Al-Mujadalah ayat 11
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sÎ) @Ï% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿt ª!$# öNä3s9 ( #sÎ)ur @Ï% (#râà±S$# (#râà±S$$sù Æìsùöt ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uy 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ×Î7yz ÇÊÊÈ
Hai orang-orang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ‘’
berlapang-lapang lah dalam majelis’’, maka lapangkan lah, niscaya allah akan
memberi kelapangan untukmu. Dan apabila di katakan: ‘’ berdirilah kamu, maka
berdirilah, niscaya allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu
dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan allah maha
mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.
Al-Mujadalah ayat 11)
3. larangan
untuk taklid
Kecaman ALLAH
kepada orang yang taklib antara lain dijelaskan al-quran sebagai mana
firman-Nya dalam surat Al–isra ayat 36
wur ß#ø)s? $tB }§øs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ íOù=Ïæ 4 ¨bÎ) yìôJ¡¡9$# u|Çt7ø9$#ur y#xsàÿø9$#ur @ä. y7Í´¯»s9'ré& tb%x. çm÷Ytã Zwqä«ó¡tB ÇÌÏÈ
Dan jangan lah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentang nya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan diminta pertanggung jawabanya. (Qs.Al-isra:36)
4. Anjuran
Islam Untuk Berinisatif Dan Inovatif
Penghargaan islam akan nilai suatu kreasi
di jelaskan lewat keterangan hadits Nabi:
“ barang siapa
memulai suatu cara (keduniaan) yang baik, dia akan mendapat ganjaran
orang-orang yang mengerjakan cara yang baik itu sampai hari kiamat.”
5. Penekanan
Pentingnya Kehidupan Dunia namun Tidak Melupakan Akhirat.
Dorongan agar manusia berhasil didalam
kehidupan dunia dijelaskan oleh Al-Qashas ayat 77
Æ÷tGö/$#ur !$yJÏù 9t?#uä ª!$# u#¤$!$# notÅzFy$# ( wur [Ys? y7t7ÅÁtR ÆÏB $u÷R9$# ( `Å¡ômr&ur !$yJ2 z`|¡ômr& ª!$# øs9Î) ( wur Æ÷ö7s? y$|¡xÿø9$# Îû ÇÚöF{$# ( ¨bÎ) ©!$# w =Ïtä tûïÏÅ¡øÿßJø9$# ÇÐÐÈ
Dan cari lah pada apa yang telah di anugrahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari
(kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (pada orang lain) sebagai mana Allah
telah berbuat baik padamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)
bumi.sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang berbuat kerusakan (Qs. Al-Qashas ayat 77)
Hadist nabi :
“bekerjalah untuk kedunianmu, seolah-olah engkau akan hidup selama-lamanya dan
berkejalah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok hari. “
Allah swt,
telah memberikan kepada manusia sebuah kemampuan dan kebebasan untuk berkarya,
berfikr dan menciptakan suatu kebudayaan. Disini, islam mengakui bahwa budaya
merupakan hasil karya manusia. Sedang agama adalah pemberian Allah untuk
kemaslahatan manusia itu sendiri. Yaitu suatu pemberian allah kepada manusia
untuk mengarahkan dan membimbing karya-karya manusia agar bermanfaat agar
bermanfaat, berkemajuan, mempunyai nilai positif dan mengangkat harkat manusia.
Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu beramal dan berkarya, untuk
selalu menggunakan pikiran yang bermanfaat bagi kepentingan, manusia. Dengan
demikian, islam telah berperan sebagai pendorong manusia untuk “kebudayaan”.
6 Pemilihan
Budaya Islam Dengan Islam Itu Sendiri
Kebudayaan
islam adalah hasil karya manusia muslim yang bersumber dari ajaran islam, dan
mempunyai beberapa ciri diantaranya: bermanfaat, berkemajuan, mempunyai nilai
positif dan harkat manusia, dan tentunya tidak bertentangan dengan ajaran islam
itu sendiri. Hasil kebudayaan islam ini mempunyai kekurangan, cacat, tidak
lengkap karna merupakan karya manusia.
Sedangkan islam
adalah ajaran-ajaran Allah yang di turunkan kepada manusia agar hidup mereka
terarah dan bermanfaat serta sesuai dengan tuntunan ilahi. Islam ini sudah
lengkap, sempurna, tidak ada cacat sedikitpun karena langsung di turunkan dari
Allah swt, dzat yang sempurna tiada banding nya.
D. Perkembangan peradaban islam di
eropa
Bukti adanya peradaban islam di eropa, pengaruhnya dapat dirasakan
dengan berbagai buku yang diterjemahkan dari bahasa arab ke bahasa latin,
bahasa thalia dan Ibrani. Buku-buku tersebut memenuhi pepustakan di eropa di
era-era awal. Dengan kata lain berlangsungnya penerjemahan di arab ke bahasa
latin. Hal ini menunjukan kemajuan islam dengan segala cabang nya. Begitu pula
di era kebangkitan eropa ketika bangsa eropa kembali dengan ilmu-ilmu yunani
klasik, mereka menjumpai buku-buku yang memang telah di muat dalam khzanah buku
muslim. Karenanya sebuah peradaban berdiri tidak lepas dari peradaban
sebelumnya.
Buku-buku lain yang mereka nukilkan adalah ilmu ilmu filsafat, ilmu
kedokteran, (buku-buku Ibnu sina dan Ar-Razi yang sudah di terjemahkan).
Buku-buku kedokteran ini di ajarkan di kampus-kampus eropa sampai abad 18
takterkecuali sekolah salerno yang di anggap sebagai sekolah kedokteran pertama
di Eropa. Ibnu sina dan Razi menjadi referensi kuliah kedokteran di paris
bahkan lebih dari itu teori-teori Ibnu khaldun yang menjadi peletak dasar ilmu
sosial masih di kenal di kampus-kampus Eropa sampai sekarang.
Bukti lain dari pengaruh peradaban islam di Eropa adalah kata yang
berasal dari bahasa arab dan masih di gunakan sampai sekarang. Bukti ini bisa
di katakan yang paling besar pengaruhnya di bangsa eropa, kalimat-kalimat
bahasa arab ini dapat di jumpai dalam bahasa spanyol, portugis, italia dan
lainnya.mencakup pula bahasa tentang kehidupan dan ilmu pengetahuan. Dan masih
banyak lagi bukti pengaruh peradaban islam di eropa baik dari musik dan
kesenian, arsitek bangunan, pertanian danperdagangan serta ilmu peta. Untuk
pembangunan fisik yang menonjol adalah pembangunan kota, istana, masjid dan
taman-taman. Diantara bangunan yang megah adalah masjid cordova, kota al-Zahra,
masjid sevile, istana alhamra digranada, istana al-makmun, tembok teledo dan
istana jafaria di saragosa.
Kemajuan eropa yang terus berkembang hingga saat ini banyak
berhutan bufdi kepada hazana ilmu pengetahuan islam yang berkembang di priode
klasik. Memang telah ditemulkan diats bahwa saluran peradaban islam yang
mempengatruhi eropa melalui espanyol, sisilia,perang salibmaupun pertukarannh
perniagaan. Tetapi saluran yang terpenting adalah spanyol. Islam espanyol
adalah merupakan tempat yang paling utama bagi eropa menyerap peradaban islam
baik dalam hubungan politik, sosial, ekonomi, maupun peradaban antar agama.
Bahwa suatu kenyataan sejarah espanyol selama 7 abad lebih berada dalam
kekuasaan islam.
Pengaruh peradaban islam termasuk didalanya pemikiran ibnu sina,
razi, dan ibn rusyd, pemikiran yang paling banyak dipelajari kemudian banyaknya
para pemuda eropa yang belajar keuniversitas islam di espanyol. Cordova. Selama
belajar di espanyol mereka aktif menterjemahkan buku para ilmuan muslim
Montgemary Wattmenyebutkan bahwa banyak sekali manfaat yg diperoleh
eropa kristen setelah bergaul dengan kaum muslimin misalnya bidang : teknik
dll. Dalam sejarahnya layar lateen ini pertama kali di temukan oleh orang arab
ketika hendak berlayar melewati laut india untuk menguasai perdagangan dari
kilwa di afrika timur hingga selat malaka. Selanjutnya adalah peta laut ini di
kembangkan oleh orang arab yang di kemudian di adopsi oleh orang genoa. Selain
itu interaksi antara eropa dan islam juga mengawali perkembangannya pertanian
di eropa pengaruh arsitektur juga merupakan bukti nyata yang hingga sekarang
masih dapat di nikmati jejak-jejak peninggalannya dan hal yang terbesar yang di
sumbangkan islam kepada eropa kristen adalah intelektual. Tokoh fisuf islam dan
ilmuan:
1.
Averous
(Ibn Rushd) 1126-1198
Filsuf dan tabib arab di lahirkan di spanyol ia menulis obat-obatan
astronomi gramatika dan ilmu hukum. Sumbangan besar dalam filsafat adalah
komentaries atas karya Aristotles dan usahanya sejauh mana kebenaran agama yang
di wahyukan harmonis dan sesuai kebenaran-kebenaran yang di pikirkan oleh
filsafat karya ini di terjemahkan dalam bahasa latieen dan merupakan tantangan
bagi Thomas Aguino. Pengaruhnya sangat besar atas filsafat eropa.
2.
Avicena
( Ibn sina ) 980-1037
Ia berasal dari iran sebagai dokter dan filusuf islam. Sangat terkenal
di dunia timur karna pengetahuannya sangat luas. Karyanya santa terkenal antara lain: khitab al shifa, suatu
ensiklopedia kepilsafatan. Qanun fil tibb, kodifikasi ilmu kedokteran Greko
muslim. Buku tersebut di terjemahkan dalam bahasa latin dan sering dicetak di
eropa selam renaicance.
3.
Ibn
Batuta, Muhammad ibn Abdullah ( 1304-1377 )
Musafir muslim 24 tahun berkelana dieropa, afrika, asia, tahun 1325
ziarah ke mekah, melalui afrika utara, mengunjungi Irak, kembali kemekah dan
kembali kepantai timur Afrika, Arabia selatan, mengadakan kekerajaan Mogol di
Tiongkok, tahun 1342, kekanton, ceylon benggala, ke Mekah melalui paris, irak,
syiria, mesir denan suatu misi ke Espanyol dan terlibat dalam suatu peperangan
di Andulusia. Disini ia bertemu dengan ilmuan Granada. Mengunjungi kota-kota
Sudan Barat, sahara.kembali ke Maroko dan mendikte memorinya kepada ibn yuzay.
4.
Khaldun
(1332-1406)
Seorang
politikus/sarjana/ilmuan Arab. Ia menulis sejara dunia universal histori yang dinamakan khitab Al Ibar. Karya ini merupakan aplikasi
orisnil dari aristhetholianisme pada data histeriografi muslim dengan refrensi
istimewa. Dengan tumbuhnya imajinasi orang eropa dan kejeniusan orang romawi.
Dalam bidang hukum hubungan mahasiswa barat dengan sekolah-sekolah islam
di Andalus dan lainnya berpengaruh besar dalam menerjemahkan sejumlah hukum fikih dan tafsir kedalam
bahasa-bahasa mereka. Eropa pada waktu itu tidak ada tatkala tiba masah pemerintahan
Napoleon di Mesir di terjemahkan kitab-kitab fikih maliki yang paling masyhur
kedalam bahasa prancis.
E. Perkembangan peradaban Islam di
Afrika
A. Islam di
Afrika
Secara geografis, Afrika
Utara merupakan wilayah bergurun. Dalam terminologi Arab, daerah ifriqiyah
merupakan bagian dari Afrika Utara yaitu wilayah Libya, Tunisia, Al-Jazair, dan
Maroko. Seluruh wilayah tersebut oleh orang-orang Arab dikenal dengan sebutan
Al-Maghribi.[7]
Penyebaran Islam di Afrika bermula pada masa
Nabi Muhammad ketika ada kontak pertama kali antara Islam dengan Afrika, yaitu setelah para
sahabat hijrah ke Habsyi dan mendapatkan sambutan baik dari raja Najjasyi maupun
penduduk setempat. Penyebaran Islam kemudian dilanjutkan pada masa Khalifah
Umar Ibn Khattab dengan mengutus Amr ibn 'Ash. Pasukan muslim dibawah panglima
Amr ibn 'Ash berhasil memasuki Mesir dengan mengelahkan tentara Bizantium yaitu
pada tahun 639-644 M, dan mendirikan kota Fusthat sebagai ibu kota pertama di wilayah Afrika
Penyebaran Islam ke
wilayah Afrika kemudian dilanjutkan oleh khalifah ke tiga yaitu Khalifah Utsman
ibn Affan dengan mengirim Abdullah ibn Sa’ad ibn Abi Sarah yang berhasil
mengalahkan tentara Romawi di Laut Tengah dan mengalahkan tentara Bizantium dan
terus maju sampai ke Barqah dan Tripoli dan terus merangsek sampai ke
daerah Carthage, yaitu ibu kota Romawi di Afrika Utara Perluasan wilayah
Afrika sedikit terganggu dengan adanya suhu politik di Madinah yang kurang
mendukung sehingga perluasan wilayah tidak memungkinkan untuk dilanjutkan.
Kondisi ini dimanfaatkan oleh Raja Konstantine III untuk merebut kembali
kekuasaannya atas wilayah Afrika.
Penyebaran Islam mengalami
kemajuan pesat ketika pada masa Muawiyah ibn Abi Sofyan dengan
mengutus seorang yang bernama Uqbah ibn Nafi' menjadi gubernur di Afrika
pada 666 M dan menjadikan kota Qayrawan sebagai ibu kota. Dengan keberaniannya,
ia membersihkan pengacau dan sekaligus memulihkan keadaan, ia merupakan orang
pertama yang menembus padang pasir Sahara.
Masuknya Islam ke Afrika
Utara merupakan moment penting bagi masa depan Islam secara keseluruhan di
benua Afrika dan daratan eropa yang selama berabad-abad berada dibawah
kekuasaan Kristen. Dalam peradaban Islam, Afrika Utara tidak dapat dilupakan
begitu saja. Hal ini dikarenakan Afrika Utara merupakan pintu masuk dari
sentral penyebaran Islam, yakni Timur Tengah. Bukti kemajuan di Afrika Utara dalam
peradaban Islam adalah dalam bidang arsitektur, seni, dekorasi dan intelektual.
Diantara tokoh yang terkenal dalam bidang intelektual adalah Ibn Batuta
(Biologi), Ibnu Khaldun (sosiologi) dan Ibn Zuhr.
Perjalanan panjang
penyebaran Islam tidak serta merta berjalan dengan mudah, akan tetapi melalui
beberapa rintangan baik rintangan dari dalam maupun dari luar. Pergolakan politik yang terjadi dalam
pemerintahan pada saat itu, dimanfaatkan oleh bangsa Berber untuk melakukan
pemberontakan. Pemberontakan silih berganti baik yang dilakukan orang-orang
Berber sendiri dengan maksud melepaskan diri dari kekuasaan orang Islam.
Misalnya, pemboikotan yang dilakukan oleh Kusailah pada masa Muawiyah. Pada
tahun 683 M orang-orang Islam di Afrika Utara
mengalami kemunduran karena orang-orang Berber di bawah pimpinan Kusailah
bangkit memberontak dan mengalahkan 'Uqbah di Tahuza pada saat pulang ke ibu
kota Qayrawan. Dia dan pasukannya tewas dalam pertempuran tersebut.
Rintangan dari
pihak luar, misalnya, keinginan bangsa Romawiatas
wilayah Afrika maupun penjajahan bangsa Eropa. Pada
saat pemerintahan dipegang oleh Abdul Malik ibn Marwan pada masa Daulah
Umayyah, Afrika Utara dapat direbut kembali dari
kekuasaan Romawi dan berhasil mengalahkan
perlawanan bangsa Berber.
B. Dinasti-dinasti Yang Mewarnai Islamisasi di
Afrika
1.
Dinasti Idrisiah
Di wilayah Maroko, Idris
ibn Abdullah setelah gagal melakukan pemberontakan terhadap Abbasiah, ia
melarikan diri ke Maroko dan mendirikan dinasti Idrisiah (788-974 M) yang
beribu kota di Fas. Dinasti ini yang pada akhirnya ditaklukkan oleh panglima
Ghalib Billah dari dinasti Umayyah di Andalusia.
2.
Dinasti Rustamiyah
Dinasti ini didirikan oleh
Abdurrahman ibn Rustam. Ia merupakan pemimpin suku Berber dari jabal Nefusa
yang menganut faham Kharijiyah sekte Ibadiyah, berhasil menduduki Tripoli dan
Qayrawan. Selanjutnya pada tahun 761 M, ia pergi ke Aljazair barat dan
mendirikan basis Kharijiyah yang kemudian dinamakan dinasti Rustamiyah yang
beribu kota di Tahert (Al-Jazair). Dinasti ini bertahan sampai tahun 909 M.
Rustamiyah memiliki nilai penting bagi sejarah Islam Afrika Utara
yang tidak sebanding dengan masa dan lingkup kekuasaan politis mereka.
3.
Dinasti Aghlabiyah
Dinasti Aghlabiyah adalah
salah satu Dinasti Islam di Afrika Utara yang berkuasa selama kurang lebih l00
tahun (800-909 M), dan berpusat di Sijilmasa. Wilayah kekuasaannya
meliputi Ifriqiyah, Algeria dan Sisilia. Dinasti ini didirikan oleh
Ibnu Aghlab.
4. Dinasti Murabbitun
Dinasti Murabbitun adalah
salah satu dinasti Islam yang berkuasa di Maghribi. Mula-mula pemimpin
Shanhaja, Yahya ibn Ibrahim, berangkat haji dan sekembalinya dari Arabia, dia
mengundang seorang alim yang terkenal di Maroko yaitu Abdullah ibn Yasin untuk
berdakwah ditengah kaumnya. Kelompok ini berawal dari 1000 anggota pejuang yang
kegiatan mereka menyebarkan agama Islam dengan mengajak suku-suku lain untuk
memeluk agama Islam Wilayah mereka meliputi Afrika Barat Daya dan Andalus
dengan beribu kota di Marakesyi (1056-1147).
5.
Dinasti al-Muwahhidun
Berdirinya dinasti
al-Muwahhidun (1130-1269 M) ini berangkat dari reaksi kekecewaannya
atas al-Murabbitun yang telah melanggar dan banyak menyimpang dari aqidah.
Dinasti al-Muwahhidun dapat mengalahkan Murabbitun dan menjadikan Marakesy
sebagai ibu kota, dan kekuasaannya meliputi sebagian wilayah Andalus.
6.
Dinasti Fatimiah
Berdirinya Dinasti ini
bermula menjelang abad ke-X, ketika kekuasaan Bani Abbasiyah di Baghdad mulai
melemah dan wilayah kekuasaannya yang luas tidak terkordinir lagi. Kondisi seperti
inilah yang telah membuka peluang bagi munculnya Dinasti-Dinasti kecil di
daerah-daerah, terutama di daerah yang Gubernur dan sultannya memiliki tentara
sendiri.
C. Islamisasi di Afrika sub-Sahara
Sejarah
awal Islamisasi di Afrika sub-Sahara tidak berbeda dengan masuknya Islam di
Asia Tenggara yaitu dengan cara damai dan melalui perdagangan tanpa pertumpahan
darah. Menurut Hasan,
sebagaimana yang dikutip oleh Karim, bahwa Uqbahlah yang pertama kali
menembus padang pasir Sahara sampai ke wilayah Sudan, Ghana, Awdaghost bahkan
sampai ke Kawar. Namun akhirnya Uqbah digantikan oleh Abdul Muhajir atas
permintaan Maslamah yaitu penguasa Afrika. Pada masa Yazid I, 'Uqbah dipercaya kembali sebagai
panglima. Ia memimpin pasukan muslim dan memperluas kekuasaannya sampai ke
Maroko. Dengan kegigihan dan semangat yang membara, seluruh Ifriqiyah dan
daerah al-Maghrib al-Aqsa dapat dikuasai dengan cepat sehingga 'Uqbah mendapat
julukan "Alexander Muslim I".
Bukti-Bukti Islam Di Afrika
Marrakesh,
ibu kota Maroko, terletak di bagian utara benua Afrika. Madrasah Ali bin Yusuf
yang berada di tengah-tengah souk merupakan salah satu bukti bahwa Marrakesh
pernah menjadi pusat belajar agama Islam di masa silam. dalamnya terlihat
masjid dan ruangan yang dahulu dijadikan tempat tinggal sekitar 150 orang
santri, yang kabarnya rela dari berbagai penjuru negeri melintasi gurun untuk
belajar di sini. Selain melihat bagian dalam masjid yang penuh dengan ukiran
kaligrafi juga terdapat bekas kamar para santri di bagian salle d'etudiants.
Bali Palace dan Bahia Palace merupakan kemegahan Islam di Marrakesh yang masih tersisa. Badi Palace dulunya adalah sebuah kerajaan megah yang dibangun tahun 1500an, tetapi sekarang tinggal reruntuhan. Namun masih terdapat ukiran kaligrafi emas yang menghias mimbar Masjid Koutabia.
Sementara Bahia Palace yang baru dibangun pada abad ke-19, menjadi tempat 'ngadem' yang menyenangkan untuk menghindari terik matahari siang Marrakesh yang garang. Bahia Palace, yang juga merupakan harem tempat Bou Ahmed menempatkan 4 istri dan 26 selirnya, terlihat cantik dan sejuk dengan hiasan bunga dan kaligrafi serta ubin keramik yang didominasi warna biru dan hijau. Kucing-kucing liar yang merupakan penghuni Bahia Palace menjadi 'model dadakan' yang kerap dijadikan sasaran kamera para turis.
Masjid Koutabia yang berada di bagian selatan Jemaa el-Fna adalah salah satu ikon kota Marrakesh. Di malam hari, banyak penduduk berlalu lalang dan berjualan di depan masjid tersebut. Ketika waktu salat tiba, mereka meninggalkan begitu saja dagangan mereka di luar dan masuk ke masjid untuk menunaikan salat.
Bali Palace dan Bahia Palace merupakan kemegahan Islam di Marrakesh yang masih tersisa. Badi Palace dulunya adalah sebuah kerajaan megah yang dibangun tahun 1500an, tetapi sekarang tinggal reruntuhan. Namun masih terdapat ukiran kaligrafi emas yang menghias mimbar Masjid Koutabia.
Sementara Bahia Palace yang baru dibangun pada abad ke-19, menjadi tempat 'ngadem' yang menyenangkan untuk menghindari terik matahari siang Marrakesh yang garang. Bahia Palace, yang juga merupakan harem tempat Bou Ahmed menempatkan 4 istri dan 26 selirnya, terlihat cantik dan sejuk dengan hiasan bunga dan kaligrafi serta ubin keramik yang didominasi warna biru dan hijau. Kucing-kucing liar yang merupakan penghuni Bahia Palace menjadi 'model dadakan' yang kerap dijadikan sasaran kamera para turis.
Masjid Koutabia yang berada di bagian selatan Jemaa el-Fna adalah salah satu ikon kota Marrakesh. Di malam hari, banyak penduduk berlalu lalang dan berjualan di depan masjid tersebut. Ketika waktu salat tiba, mereka meninggalkan begitu saja dagangan mereka di luar dan masuk ke masjid untuk menunaikan salat.
Mengenai
kedatangan Islam di negara-negara yang ada di Asia Tenggara hampir semuanya
didahului oleh interaksi antara masyarakat di wilayah kepulauan dengan para
pedagang Arab, India, Bengal, Cina, Gujarat, Iran, Yaman dan Arabia Selatan.
Pada abad ke-5 sebelum Masehi Kepulauan Melayu telah menjadi tempat
persinggahan para pedagang yang berlayar ke Cina dan mereka telah menjalin
hubungan dengan masyarakat sekitar Pesisir. Kondisi semacam inilah yang
dimanfaatkan para pedagang Muslim yang singgah untuk menyebarkan Islam pada
warga sekitar pesisir.[4][2]
b. Sejarah Masuknya Islam di Asia
Sejak
abad pertama, kawasan laut Asia Tenggara, khususnya Selat Malaka sudah
mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan pelayaran dan
perdagangan internasional yang dapat menghubungkan negeri-negeri di Asia Timur
Jauh, Asia Tenggara dan Asia Barat. Perkembangan pelayaran dan perdagangan
internasional yang terbentang jauh dari Teluk Persia sampai China melalui Selat
Malaka itu kelihatan sejalan pula dengan muncul dan berkembangnya kekuasaan
besar, yaitu China dibawah Dinasti Tang (618-907), kerajaan Sriwijaya (abad
ke-7-14), dan Dinasti Umayyah (660-749.Masuknya Islam ke berbagai wilayah di
Asia termasuk di Asia tenggara tidak berada dalam satu waktu yang bersamaan
tetapi berada dalam satu kesatuan proses sejarah yang panjang.
Kerajaan-kerajaan dan wilayah itupun berada dalam situasi politik dan kondisi
sosial budaya yang berbeda-beda. Ketika sriwijaya mengembangkan kekuasaannya
sekitar abad VII dan VIII, jalur selat malaka sudah ramai oleh para pedagang
Muslim. Data ini diperkuat dengan berita Cina jaman dinasti T’ang yang dapat
memberikan gambaran bahwa ketika itu telah ada masyarakat Muslim di kanfu
(kanton) dan daerah Sumatera. Diperkirakan terjalinnya perdagangan yang
bersifat Internasional ketika itu juga sebagai akibat kegiatan kerajaan Cina jaman
dinasti T’ang di Asia timur dengan kerajaan Islam dibawah Bani Umayyah di
bagian Barat, dan tentunya kerajaan Sriwijaya sendiri di wilayah Asia Tenggara.
Sejak
abad ke-7 dan abad selanjutnya Islam telah datang di daerah bagian Timur Asia
dan Asia Tenggara. Sebagaimana dikemukakan diatas Selat Malaka sejak abad
tersebut sudah mempunyai kedudukan penting. Karena itu, para pedagang dan
mubaligh Arab dan Persia yang sampai di China Selatan juga menempuh pelayaran
melalui Selat Malaka.[5][8] Kedatangan Islam di Asia Tenggara dapat
dihubungkan dengan pemberitaan dari I-Cing, seorang musafir Budha, yang
mengadakan perjalanan dengan kapal yang di sebutnya kapal Po-Sse di Canton pada
tahun 671. Ia kemudian berlayar menuju arah selatan ke Bhoga (di sekitar daerah
Palembang di Sumatera Selatan). Selain pemberitaan tersebut, dalam
Hsin-Ting-Shu dari masa Dinasti yang terdapat laporan yang menceritakan orang
Ta-Shih mempunyai niat untuk menyerang kerajaan Ho-Ling di bawah pemerintahan
Ratu Sima (674).[6][9] Dari sumber tersebut, ada dua sebutan yaitu
Po-Sse dan Ta-Shih. Menurut beberapa ahli, yang dimaksud dengan Po-Sse adalah
Persia dan yang dimaksud dengan Ta-Shih adalah Arab. Jadi jelaslah bahwa orang
Persia dan Arab sudah hadir di Asia Tenggara sejak abad-7 dengan membawa ajaran
Islam.[7][10]
Sebelum
kedatangan Islam agama-agama Hindu dan Budha adalah kepercayaan utama di Asia
Tenggara. Kerajaan-kerajaan di daratan (semenanjung) Asia Tenggara pada umumnya
memeluk agama Buddha,
sedangkan kerajaan-kerajaan di kepulauan Melayu (Nusantara) umumnya lebih dipengaruhi agama Hindu. Beberapa kerajaan yang berkembang di
semenanjung ini, awalnya bermula di daerah yang sekarang menjadi negara-negara Myanmar, Kamboja dan Vietnam. Kerajaan-kerajaan kuno di Asia Tenggara pada
umumnya dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu kerajaan-kerajaan agraris dan
kerajaan-kerajaan maritim. Kegiatan utama kerajaan-kerajaan agraris adalah
pertanian. Mereka kebanyakan terletak di semenanjung Asia Tenggara. Contoh
kerajaan agraris adalah Kerajaan Ayutthaya, yang terletak di delta sungai Chao Phraya
(Thailand), dan Kerajaan Khmer yang berada di Tonle Sap.
Kerajaan-kerajaan maritim kegiatan utamanya adalah perdagangan melalui laut. Kerajaan Malaka
dan Kerajaan Sriwijaya
adalah contoh dari Kerajaan Maritim
Kekuasaan
dominan yang pertama kali muncul di kepulauan adalah Sriwijaya
di Sumatra.
Dari abad ke-5 Masehi, Palembang sebagai ibukota Sriwijaya menjadi pelabuhan
besar dan berfungsi sebagai pelabuhan persinggahan (entrepot) pada jalur
Rempah-rempah (spice route). Sriwijaya juga merupakan pusat pengaruh dan
pendidikan agama Buddha yang cukup berpengaruh. Kemajuan teknologi
kelautan membuat pengaruh dan kemakmuran
Sriwijaya memudar. Kemajuan tersebut membuat para pedagang Tiongkok dan India
untuk dapat secara langsung mengirimkan barang-barang diantara keduanya.
Pulau
Jawa
kerap kali didominasi oleh beberapa kerajaan agraris yang saling bersaing satu
sama lain, termasuk diantaranya kerajaan-kerajaan wangsa Syailendra,
Mataram Kuno
dan akhirnya Majapahit.
Para pedagang Muslim
mulai mengunjungi Asia Tenggara pada abad ke-12 Masehi. Samudera Pasai
adalah kerajaan Islam yang pertama. Ketika itu, Sriwijaya telah diambang
keruntuhan akibat perselisihan internal. Kesultanan Malaka, yang didirikan oleh
salah seorang pangeran Sriwijaya, berkembang kekuasaannya dalam perlindungan
Tiongkok dan mengambil alih peranan Sriwijaya sebelumnya. Agama Islam kemudian menyebar di sekitar kepulauan selama
abad ke-13 dan abad ke-14 menggantikan agama Hindu, dimana Malaka (yang para
penguasanya telah beragama Islam) berfungsi sebagai pusat penyebarannya di
wilayah ini. Beberapa kesultanan lainnya, seperti kesultanan Brunei di Kalimantan
dan kesultanan Sulu di Filipina secara relatif mengalami sedikit hubungan
dengan kerajaan-kerajaan lainnya.[8][12]
C.
Teori-teori Masuknya Islam di Asia
1. Teori Semenanjung Arab
Dikemukakan oleh John
Crawford disokong Syed Muhamad Naquib l-Attas. Buktinya:
a. Aktivitis perdagangan
meneruskan catatan China yang menyataka orang Arab dan Parsi mempunyai
pertempatan di Canton pada 300M.
b. Pedagang Arab dapat
menguasai laut dari pelabuhan Iskandariah hingga China. Telah berdagang di
rantau ini terutama setelah kemunculan Islam pada abad 7 M.
c. Pedagang Arab singgah di
pelabuhan utama Asia Tenggara sebelum ke China, tempat menunggu dari angin
muson.
d. Menetap beberapa bulan dan
mewujudkan perkampungan dan ada urusan jual beli barang mewah dari China dan
India. Perkampungan Islam Ta Shih di
Sumatera Utara pada 650 M menurut catatan China.
e. Perkawinan dengan
orang pesisir.
f. Wujud persamaan
tulisan kesusasteraan di Asia Tenggara dan Arab.
g. Pengislaman raja-raja
melayu oleh syeikh dari Arab seperti dalam Hikayat raja-raja Pasai keturunan
sufi. Berjaya mengislamkan Merah Silu ( Malik al-Salih. ) Raja Pattani
Phaya Tu Nakpa diislamkan Syeikh Said.[9]
2.
Teori China
Dikemukakan oleh Emanuel Gadinho antara lain :
a. Khan Fo atau Canton
menjadi pusat perdagangan Arab sejak abad 9M
b.
Menyebarkan Islam dikalangan peniaga China kemudian sebar ke Asia Tenggara.
c.
Menurut Fatimi antara lain dikarenakan: Berpindahahnya pedagang Islam di
Canton ke Asia Tenggara pada 876 M.
d.
Penemuan batu nisan bertarikh 1028 M di Permatang Pasir, Pulau Tambun,
Pekan Pahang mempunyai ayat al-Quran dan kalimah Arab, bukti Islam telah sampai
sbelum abad 13M.
e.
Dibawa oleh mubaligh Cina menerusi Laut Cina Selatan ke Phang Rang IndoCina
dan Pekan Pahang.
f.
Persamaan seni bina China dan seni bina masjid di Kelantan, Malaka dan
Jawa. Di Melaka bentuk bumbung, atap genting, warna merah dan kuning pada kayu
kepala pintu, lantai, dinding, tangga, dan kolam air.[10][15]
3.
Teori India
Dari wilayah Gujarat dan Pantai
Coromandel. Abad 13M Dikemukan oleh Snouck Hurgronge:
a. Hubungan Asia Tenggara dan
India sudah lama, karena pedagang Islam India sudah tersebar di Asia Tenggara
b.
Gujarat pelabuhan penting pada zaman Alaudin Khinji di India.
c.
Batu marmer pada batu nisan Malik al-Salih di pasai mempunyai ciri-ciri
India.
D.
Cara Penyebaran Islam di Asia
1.
Perdagangan
Pada
taraf permulaan, proses masuknya Islam adalah melalui perdagangan. Kesibukan
lalu-lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 membuat pedagang-pedagang
Muslim (Arab, Persia dan India) turut ambil bagian dalam perdagangan dari
negeri-negeri bagian Barat, Tenggara dan Timur Benua Asia. Serta hubungan
dengan pelabuhan-pelabuhan di Selat Malaka, Teluk Siam, IndoChina, Kepulauan
Rempah seperti Maluku dan Makasar sebagai pusat kegiatan manusia dari berbagai
tempat. Saluran Islamisasi melaui perdagangan ini sangat menguntungkan karena
para raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka
menjadi pemilik kapal dan saham. Mereka berhasil mendirikan masjid dan
mendatangkan mullah-mullah dari luar sehingga jumlah mereka menjadi banyak, dan
karenanya anak-anak Muslim itu menjadi orang Jawa dan kaya-kaya.
2.
Pernikahan
Dari
sudut ekonomi, para pedagang Muslim memiliki status sosial yang lebih baik
daripada kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumi terutama puteri-puteri
bangsawan, tertarik untuk menjadi isteri saudagar-saudagar itu. Sebelum dikawin
mereka diislamkan terlebih dahulu. Setelah mereka mempunyai keturunan,
lingkungan mereka makin luas, akhirnya timbul kampung-kampung, daerah-daerah
dan kerajaan Muslim
3.
Politik
Di
Maluku dan Sulawesi selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah rajanya
memeluk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu
tersebarnya Islam di daerah ini. Di samping itu, baik di Sumatera dan Jawa
maupun di Indonesia Bagian Timur, demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan
Islam memerangi kerajaan-kerajaan non Islam. Kemenangan kerajaan Islam secara
politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan Islam itu masuk Islam. Contoh:
Mega Iskandar Shah Malaka dengan Raja Malik al Salih Pasai.
4.
Saluran Tasawuf
Pengajar-pengajar
tasawuf,atau parasufi mengajarkan teosofi yang bercampur dengan ajaran yang
sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.
Mereka mahir dalam hal yang magis dan mempunyai kekuatan-kekuatan
menyembuhkan. Diantara mereka ada juga yang mengawini masyarakat setempat.
Dengan tasawuf bentuk Islam yang diajarkan kepada penduduk pribumi mempunyai
persamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu,
sehingga agama baru itu mudah dimengerti dan diterima. Diantara ahli-ahli
tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam pikiran
pra Islam itu adalah Hamzah Fansuri di Aceh, Syekh Lemah Abang, dan Sunan
Panggung di Jawa. Ajaran mistik ini masih berkembang di abad ke-19 M bahkan di
abad ke 20 M ini.
5.
Saluran pendidikan
Islamisasi
juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang
diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai dan ulama. Di pesantren atau
pondok itu, calon ulama, guru agama dan kiai mendapat pendidikan agama. Setelah
keluar dari pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masing atau berdakwak
ketempat tertentu mengajarkan Islam. Misalnya, pesantren yang didirikan oleh
Raden rahmat di Ampel Denta Surabaya, dan Sunan Giri di Giri. Keluaran
pesantren ini banyak yang diundang ke Maluku untuk mengajarkan Agama Islam.
6.
Saluran kesenian
Saluran
Islamisasi melaui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang.
Dikatakan, Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan
wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta para
penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita
wayang masih dipetik dari cerita Mahabarata dan Ramayana, tetapi dalam serita
itu di sisipkan ajaran nama-nama pahlawan Islam. Kesenian-kesenian lainnya juga
dijadikan alat Islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad dan sebagainya), seni
bangunan dan seni ukir.
E.
Tahap-Tahap Perkembangan Islam di Asia
1.
Kehadiran para pedagang Muslim (7 - 12 M)
Fase
ini diyakini sebagai fase permulaan dari proses sosialisasi Islam di kawasan
Asia Tenggara, yang dimulai dengan kontak sosial budaya antara pendatang Muslim
dengan penduduk setempat.
Pada
fase pertama ini, tidak ditemukan data mengenai masuknya penduduk asli ke dalam
Islam. Bukti yang cukup jelas mengenai hal ini baru diperoleh jauh kemudian,
yakni pada permulaan abad ke-13 M / 7 H. Sangat mungkin dalam kurun abad ke 1
sampai 4 H terdapat hubungan perkawinan antara pedagang Muslim dengan penduduk
setempat, hingga menjadikan mereka beralih menjadi Muslim. Tetapi ini baru pada tahap dugaan.
2.
Terbentuknya Kerajaan Islam (13-16M)
Pada
fase kedua ini, Islam semakin tersosialisasi dalam masyarakat Nusantara dengan
mulai terbentuknya pusat kekuasaan Islam. Pada akhir abad ke-13 kerajaan
Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam
pertama di Indonesia merebut jalur perdagangan di Selat Malaka yang sebelumnya
dikuasai oleh kerajaan Sriwijaya. Hal ini terus berlanjut hingga pada permulaan
abad ke-14 berdiri kerajaan Malaka di Semenanjung Malaysia.
Sultan
Mansyur Syah (w. 1477 M) adalah sultan keenam Kerajaan Malaka yang membuat
Islam sangat berkembang di Pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaka.Di
bagian lain, di Jawa saat itu sudah memperlihatkan bukti kuatnya peranan
kelompok Masyarakat Muslim, terutama di pesisir utara.
3.
Pelembagaan Islam
Pada
fase ini sosialisasi Islam semakin tak terbendung lagi masuk ke pusat-pusat
kekuasaan, merembes terus sampai hampir ke seluruh wilayah.Hal ini tidak bisa
dilepaskan dari peranan para penyebar dan pengajar Islam.Mereka menduduki
berbagai jabatan dalam struktur birokrasi kerajaan, dan banyak diantara mereka
menikah dengan penduduk pribumi. Dengan kata lain, Islam dikukuhkan di
pusat-pusat kekuasaan di Nusantara melalui jalur perdagangan, perkawinan dengan
elit birokrasi dan ekonomi, di samping dengan sosialisasi langsung pada
masyarakat bawah. Pengaruh Islamisasi yang pada awalnya hanya berpusat di satu
tempat telah jauh meluas ke
wilayah-wilayah lain di Asia tenggara.
G. Respon masyarakat terhadap peradaban Islam
1.
Kesalahpahaman Masyarakat Barat
Masyarakat barat umumnya melakukan kesalahan dalam
memahami Islam. Hal itu terjadi karena masyarakat Barat umumnya memepelajari
dan memahami Islam dari buku-buku para orientalis, sedangkan para orientalis
mengkaji Islam dengan tujuan untuk menimbulkan miskonsepsi terhadap Islam,
selain adanya motif politis yaitu untuk mengetahui rahasia kekuatan Islam yang
tidak lepas dari ambisi imperialis Barat untuk mengetahui dunia Islam. Umumnya
ketika berbicara mengenai Islam pandangan dan analisis para orientalis tidak
objektif dan tidak fair sudah bercampur dengan subjektivisme dan kepentingan
tertentu. Karenanya pandangan mereka biasa dan berat sebelah. Hasilnya adalah
kesalahpahaman terhadap Islam di dunia Barat. Citra Islam yang tampak di dunia
Barat adalah kekejaman, kekerasan, fanatisme, kebencian dan keterbelakangan.
Hal itu diperparah dengan sajian media massa mereka
yang menampilkan Islam tidak secara utuh. Bahkan Islam yang mereka kenalkan
bukan Islam kebanyakan (Sunni), melainkan Islam Syi’ah (Iran) yang hanya dianut
oleh 10% kaum Muslim dunia.
Kekeliruan Barat dalam memahami Islam yang lain adalah
menyamakan Islam dengan perilaku individu umat Islam yang melakukan kekerasan,
cap “teroris” pun dilekatkan pada Islam tanpa mau tahu mengapa aksi kekerasan
itu terjadi. Karenanya, populerlah istilah “Terorisme Islam”.
Kesalahpahaman tersebut diperparah lagi dengan
gencarnya serangan propaganda Barat melalui berbagai media massanya untuk
memojokkan agama dan umat Islam (demonologi Islam). Dalam pengemasan berita
tentang umat Islam kerap mengekspos cap-cap seperti “fundamentalisme”,
“militanisme”, “ekstremisme”, “radikalisme” dan bahkan “terorisme” yang arahnya
jelas: untuk mendiskreditkan Islam.
Fobi Islam (Islamophobia, ketakutan terhadap Islam)
adalah produk utama propaganda media massa Barat (demonoloogi Islam). Parahnya
lagi fobi tersebut tidak hanya melanda masyarakat Barat, tetapi juga sebagian
besar umat Islam. Mereka merasa ngeri bila hukum Islam diberlakukan karena
frame yang ada dikepala mereka adalah hukum rajam bagi pezina , hukum cambuk bagi
pemabuk, hukum potong tangan bagi pencuri, atau hukum mati bagi pembunuh.
Isu-isu hukum Islam yang menjadi bahan propaganda Barat untuk menjauhkan umat
Islam dari ajaran agamanya dan menumbuhkan fobi Islam.
Revolusi Islam Iran (1979) umumnya dijadikan referensi:
jika kekuatan Islam naik ke puncak kekuasaan di suatu Negara, pemerintahan
Negara itu akan menerapkan syari’at Islam dan anti-Barat, khususnya
anti-Amerika. Adapun kepentingan Barat di dunia Islam sangat vital. Dunia Islam
bagi barat yang terbentang dari Maroko sampai Merauke letak geografisnya sangat
strategis bagi kepentingan politik dan militer. Kekayaan alamnya, khususnya
minyaknya, merupakan kebutuhan vital bagi industri-industri barat. Bisa
dikatakan bahwa roda-roda perekonomian Negara-negara barat sangat bergantung
pada minyak yang ada di sebagian Negara-negara Islam. Timur tengah sebagai
tempat kelahiran dan “pusat Islam” merupakan pemasok terbesar kebutuhan minyak
dunia. Itulah salah satu alasan mengapa barat merasa “wajib” menaklukkan dunia
Islam.
C. Respon Muslim
Terhadap Barat (Dialog atau Melawan Hegemoni)
Apapun motif, model dan pihak yang terlibat konflik,
realitas dunia yang penuh konflik menimbulkan bencana kemanusiaan yang dahsyat,
dimana negara-negara berkembang – termasuk Muslim – adalah korbannya. Konflik
yang dipicu oleh semangat imperialisme telah membuat jurang yang semakin lebar
antara kelompok dominan dan yang didominasi. Dunia tentu tidak boleh terlalu
lama dibiarkan terpolarisasi atas dua kelompok itu, di mana kelompok dominan
sebagai the first class, bisa berbuat sewenang-wenang atas kelompok yang
didominasi. Jalan keluar dari kemelut ini ada dua yang ditawarkan beberapa
kalangan, dialog atau melawan hegemoni.
Dialog adalah model penyelesaian yang dinilai paling
sedikit menanggung resiko. Dialog ini mengasumsikan antara pihak yang terlibat
konflik (Barat dan non-Barat –Islam-) berada dalam posisi yang sejajar untuk
mau saling mengerti satu sama lain. Negara-negara Barat harus mau mengakhiri
sikap imperialis dalam segala bentuknya, termasuk proyek-proyek
pos-kolonialismenya, dan mulai membangun relasi setara dan bersahabat.
Kerjasama dan partisipasi hanya akan bermakna bila didasarkan keseimbangan
kepentingan dan bebas dari hegemoni.
Orang yang mengidealkancara dialog
untukmenyelesaikankonflikperadabanataukepentinganmungkinlupabahwasyahwathegemoni
Barat adalahsesuatu yang sudahlatendalamtradisirelasi Barat – non-Barat.
Keinginanuntukmengajak Barat bersikaplebihadiladalah utopia di
tengahnafsuserakah Barat yang inginmenguasaidunia.
Setelahcara dialog adalah model utopis, makajalan lain
yang tidakbolehdihindariolehnegara-negara non-Barat (berkembangatau Muslim)
adalahmelawanhegemoniitudenganpotensikekuatan yang ada. Cara melawanhegemoni
yang paling fundamental adalahbersikapkritisterhadapberbagaipengetahuan yang
dikembangkanolehdanuntukkepentingan Barat.Sikap yang terlaluadaptatif – umat
Islam Islam – terhadap yang datangdari Barat
hanyaakansemakinmengukuhkanhegemoni Barat di dunia Muslim. Umat Islam yang
secarasukarelabelajardemokrasi, lalumengintegrasikandalamajaran Islam
danmenerapkandalamkehidupanpolitikadalahsalahsatubentukmenerimauntukdijajah.Belumlagiketikabelajardanmenerimaperadaban,
modernitas, dancivil societyhampirtanpareserve.Padahalnenurut James Petrasdan
Henry Veltmeyer (2002 : 217),
wacanatentangitusemuasesungguhnyadipakaiuntukmelegitimasiperbudakan, genocide,
kolonialisme, dansemuabentukeksploitasiterhadapmanusia.
Sudahsaatnyakaum Muslim di
negara-negaraberkembangbersikapkritisuntukmelawanwacana global yang diproduksi
Barat.Termasukwacanaglobalisasi yang selamainiditerimasebagaisesuatu yang
niscaya, harusdikritisikarenatersembunyisebuahideologi (hidden ideology) yakni
neo-liberalisme yang dampaknyaterhadappembunuhanekoniomirakyatsangatluarbiasa.
Memang patut untuk disayangkan sikap beberapa kaum
Muslim yang mengaku berfikir liberal tetapisesunggunya mereka telah menjadi
terbaratkan. Misalnya saat merek aramai-ramai menolak penerapan syari’at Islam
di Indonesia, yang mereka tawarkan tidak lain dan tidak bukan adalah syari’at
liberal yang jauh lebih menghancurkan bangsa ini. Karena syariat liberal pada
dasarnya adalah pembuka dan sekaligus legitimasi rasional atas berbagai bentuk
mutakhir penjajahan Barat atasnegara berkembang, termasuk Indonesia.
D. Implikasi
Penjajahan Barat Terhadap Perkembangan Peradaban Islam
Serbuan kaum salib ke negeri-negeri Islam tidak hanya
menggunakan pedang, besi dan api, tetapi juga melalui peradaban mereka yang
dicekokkan ke semua negeri yang dapat dikuasainya. Bukanhanyaperadaban material
yang menyerbunegara-negara Islam, bahkan mental
dannilai-nilaimoralpuntidakketinggalan, sepertisistempendidikandanpengajaran,
danpemikiran-pemikiran orang Eropamengenaiilmujiwa, ilmusosial, modal dan
lain-lain. PerangSalibmenghasilkanpuing-puingkehancuranbagikaummusliminakibatkemauanpenjajah
yang
dikendalikanolehkeserakahanuntukmenguasaidanmemperkuatwilayahnyamerekamemikulsalib
di pundakmereka, tetapisetanberada di hatimereka.
Dahulu kaum muslimin menghayati peradaban ditambah
dengan peradaban Persia, Turki dan lain-lain disamping pemikiran filsafat yang
diserap dari Yunani dan Romawi. Dengan datangnya peradaban Barat, maka
peradaban lama yang telah mereka hayati selama berabad-abad mengalami
keguncangan hebat dalam pikiran mereka. Inti peradaban Barat bercorak Nasrani,
karena itu orang-orang Qibth di Mesir lebih mudah meniru dan menyerapnya. Namun
mereka lebih banyak menyerap segi material daripada segi moralnya, sehingga
setiap rumah dari keluarga kaum muslimin telah menggunakan penerangan listrik,
menggunakan sajadah buatan Eropa, mendengarkan siara radio Eropa dan lain
sebagainya.
Pada saat barat mendominasi dunia di bidang politik
dan peradaban, persentuhan dengan Barat menyadarkan tokoh-tokoh Islam akan
ketinggalan mereka. Karena itu mereka berusaha bangkit dengan mencontoh Barat
dalam masalah-masalah politik dan peradaban untuk menciptakan balance of power.
Yang pertama merasakan hal itu diantaranya Turki Usmani, karena kerajaan ini
yang pertama dan utama menghadapi kekuatan Eropa. Kesadaran itu memaksa
penguasa dan pejuang-pejuang Turki untuk banyak belajar dari Eropa.
Penjajahan Barat juga memicu gerakan pembaharuan dalam
Islam, yang didorong oleh 2 faktor yaitu pemurnian ajaran Islam dari
unsur-unsur asing yang dipandang sebagai penyebab kemunduran Islam dan menimba
gagasan-gagasan pembaharuan dan ilmu pengetahuan dari Barat, sedangkan yang
kedua, tercermin dari pengiriman para pelajar muslim oleh penguasa Turki Usmani
dan Mesir ke negara-negara Eropa untuk menimba ilmu pengetahuan dan dilanjutkan
dengan gerakan penerjemahan karya-karya Barat ke dalam bahasa Islam.
Pelajar-pelajar muslim asal India juga banyak menuntut ilmu ke Inggris.
Pengaruh Barat terutama terlihat pada lapisan atas dan menengah, terutama pada
intelegensia orang yang memperoleh pendidikan Barat, yang dijumpai pada tiap
negeri Timur. Dalam reaksinya terhadap pengaruh Barat mereka mempunyai
pandangan yang berbeda-beda. Pandangan pertama berpegang pada sendi-sendi
filsafat hidup nenek moyangnya, berusaha melakukan asimilasi dengan ide-ide
Barat dan memikirkan sintesa yang lebih tinggi dari semangat Barat. Kedua,
memutuskan hubungan dengan warisan lama, menerjunkan dirinya dalam pembaratan.
Yang ketiga bersembunyi di belakang kekecewaan dan kengerian Barat.
Memang benar bahwa peradaban Barat memainkan peranan
besar dalam memajukan dunia Islam. Tanpa peradaban Barat dunia Islam tentu
masih seperti keadaan semula, tetapi itu tidak berarti bahwa peradaban Barat
tidak mengandung cacat dan kekurangan. Peradaban Barat telah menjauhkan dunia
Islam dari peradaban Islam yang lama. Akhirnya peradaban Islam bukan lagi suatu
produk dari kaum muslimin mandiri sebagaimana peradaban Barat adalah produk
dari orang-orang Barat sendiri.
[1] Rosihon
Anwar, pengantar srudi Islam, pustaka setia Bandung, 2009, hlm 18
[2]
Ibid, hlm 20
[3] Suparman
Syukur, studi Islam transformatif, pustaka pelajar Yoyakarta, 2015, hlm
27
[10][15] Muhammad Ibrahim dan Rusdi Sufi, Sejarah
Masuk dan Berkembangnya Islam Islam di Indonesia, (Jakarta: Al-Maarif,
1989), hal. 102
Komentar
Posting Komentar